Wisata Religi Di Masjid Sunan Sendang Dhuwur

  • April 4, 2020

Masjid Sendang Dhuwur, adalah masjid tertua di Lamongan. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang bersejarah dan tidak ada perubahan sama sekali,bahkan masjid ini pun tidak di sertai dengan Kubah Masjid seperti masjid megah pada umumnya.

Dan ini telah menjadi sebuah bukti kehebatan perjuangan Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan dan Tuban. Meskipun berusia 477 tahun, ia tetap kuat dan merupakan bukti sejarah Islam yang abadi.

Struktur besar Sendang Dhuwur diperbaiki pada tahun 1920. Namun, arsitektur aslinya masih terlihat dan menggambarkan keagungan zamannya. Beberapa peninggalan bersejarah tertinggal, seperti mimbar, drum kulit dan tong tempat air minum.

Wisata Religi Di Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Sejarah pendirian masjid adalah suatu keharusan dengan kisah-kisah luar biasa. Menurut penduduk setempat, masjid ini dibangun dalam satu malam. Dikatakan bahwa Sunan Sendang Dhuwur memindahkan masjid ini dari Mantingan di Jepara – Jawa Tengah ke lokasi saat ini di malam hari.

Itulah sebabnya masjid ini juga disebut masjid Tibet. Sekarang Masjid Sendang Dhuwur adalah salah satu dari tiga masjid peninggalan wali yang masih terpelihara dengan baik. Dua di antaranya adalah Masjid Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur, yang nama aslinya adalah Raden Noer Rahmad, adalah putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak).

Raden Nur Rahmad lahir pada 1320 M dan meninggal pada 1585 M. Bukti ini bisa dilihat pada patung-patung di dinding kuburnya. Ia adalah sosok karismatik yang pengaruhnya pada saat itu dapat disamakan dengan Wali Songo.

Ada yang mengatakan bahwa Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar dari Sedayu (Gresik), salah satu siswa Sunan Drajad. Ada juga yang mengatakan bahwa Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar, tetapi tidak belajar dengan Sunan Drajad.

Tetapi dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya akan lulus Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap bisa membangun masjid di Desa Sendang Duwur. Tidak memiliki kayu, Sunan Drajad melaporkan masalah ini kepada Sunan Kalijogo, yang membawanya ke Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang pada waktu itu memiliki masjid.

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu dari Raden Muchayat, Sultan Syech dari Aceh. Ketika diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak melupakan agama Islam. Sehingga masjid yang indah dibangun di wilayah tersebut pada tahun 1531 Masehi. Banyak sarjana dan Kiai kagum pada keindahan dan kemegahan masjid.

Kemudian Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur untuk pergi ke Jepara untuk bertanya tentang masjid. Tapi apa yang dikatakan Mbok Rondo Mantingan saat itu? Halo anak baik, mengerti, saya tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (saat itu sudah mati, Red) menyarankan siapa saja yang bisa langsung meletakkan masjid ini utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam) aku akan memberikan masjid ini secara gratis.

Ketika Sunan Sendang Duwur, yang saat itu masih muda, mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, ia merasa tertantang. Seperti yang disarankan dan tentu saja dengan izin Allah, masjid itu berhasil dibawa ke Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur, hingga satu malam. Masjid Sendang Duwur berdiri di sana, ditandai oleh matahari sengkala yang bertuliskan “gunaning seliro tirti hayu”, yang berarti menunjukkan jumlah tahun baru 1483 Saka atau 1561 Masehi.

Tetapi cerita lain mengatakan bahwa pada malam hari kelompok itu (yang diperintah oleh Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) mengangkut masjid melalui laut dari Mantingan ke timur (Lamongan).

Kelompok itu diminta mendarat di pantai berbatu seperti katak (Tanjung Kodok) yang terletak di utara Bukit Amitunon di Sendang Duwur.

Vidal

E-mail : Vidal@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*