Sejarah Berdirinya Masjid Agung Jami Kesultanan Sambas

  • April 4, 2020

Masjid Agung Jami ‘Kesultanan Sambas dari Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II di Kabupaten Sambas, atau Masjid Agung Kraton Sambas, adalah sebuah bangunan masjid yang diwarisi dari Kesultanan Sambas di Provinsi Kalimantan Barat. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang bersejarah dan tidak ada perubahan sama sekali,bahkan masjid ini pun tidak di sertai dengan Kubah Masjid seperti masjid megah pada umumnya.

Pada saat itu, masjid ini adalah masjid resmi Kesultanan Sambas. Masjid kuno dibangun dengan kayu ulin dan masih kuat meskipun usianya sudah lebih dari seabad menjadikannya masjid tertua di Kabupaten Sambas dan Kalimantan Barat. Masjid tua ini sekarang menjadi distrik wisata Kabupaten Sambas.

Sejarah Berdirinya Masjid Agung Jami 'Kesultanan Sambas

Masjid Agung Kesultanan Sambas terletak di Kompleks Istana Alwatzikhoebillah, Istana Kesultanan Sambas, di Desa Dalam Kaum, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Lokasinya berada di lokasi yang sangat strategis di persimpangan Sungai Sambas atau lebih dikenal dengan Muare Ulakan.

Arah: Kabupaten Sambas terletak sekitar 225 kilometer utara Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak Anda dapat naik bus antarkota ke kota Sambas, yang membutuhkan waktu sekitar lima jam. Dari pusat kota Sambas, lanjutkan dengan bus atau minibus ke istana Istana Kesultanan Sambas, Istana Alwatzikhoebillah.

Hikayat Perayaan Idul Fitri Masjid Agung Jami ‘Sultan Muhammad Tsafiuddin II

Pada malam Idul Fitri, Masjid Kesultanan Sambas mengadakan acara takbiran yang diadakan dengan doa malam. Takbiran dilakukan serentak di masjid istana dan takbir sekitar menggunakan kendaraan roda empat yang diarak saat mereka meniru takbir melalui kota Sambas dan daerah sekitarnya. Tradisi ini telah dijalankan selama beberapa generasi.

Sejarah Masjid Agung Jami ‘Sultan Muhammad Tsafiuddin II

Masjid Agung Jami ‘Sultan Syafiuddin II adalah masjid yang didirikan pada tahun 1303 Hijriah atau pada tanggal 10 Oktober 1885 M, yang mana dengan ini telah menjadikan masjid ini masjid tertua di Kabupaten Sambas dan salah satu masjid tertua di provinsi Kalimantan Barat.

Masjid Kesultanan telah menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah ini dari Kesultanan Sambas ke Brunei dan Malaysia sejak awal, karena memang Kesultanan Sambas memiliki hubungan dengan Kesultanan Kerajaan Brunai Darussalam dalam sejarahnya.

Sejarah masjid tidak terlepas dari sejarah Kesultanan Sambas. Sejarah Kesultanan Sambas dimulai sejak keruntuhan kerajaan Majapahit pada abad ke-16 dan dimulai dengan pernikahan putri Raja Mapahit bernama Ratu Tengah (Ratu Surya), Putri Tanjungpura (Sukadana) dan Pangeran Kesultanan dari Brunai Darussalam disebut Sultan Raja Tengah.

Sultan Raja Tengah adalah putra dari Sultan Brunai Darussalam, Sultan Abdul Jalilul Akbar, yang memerintah pada 1598-1659. Sultan Abdul Jalilul Akbar adalah dirinya sendiri penguasaan kesepuluh Sri Paduka Sultan Muhammad, raja Brunei yang memerintah pada abad ke-13 dan Raden Sulaiman lahir dari pernikahan ini.

Raden Sulaiman kemudian mempersunting Mas Ayu Bungsu, yakni putra sulung dari Ratu Sepudak, Ratu Sepundak adalah ratu dari kerajaan Majapahit dan juga beliau ini pernah memerintah di kerajaan Sambas dan masih menganut agama Hindu dengan pemerintah pusat di kota lama (sekarang di distrik Teluk) Keramat, 30 km dari Kota Sambas).

Pada tahun 1630, Raden Sulaiman ini telah resmi untuk mendirikan Kesultanan Sambas yang semuanya berbasis ajaran Islam, bahkan beliau juga dinobatkan sebagai Kesultanan Sambas pertama di Muara Ulakan, yang berjudul Sultan Muhammad Syafiuddin I. Sejak itu, Islam telah berkembang di wilayah Sambas.

Ketika membaca silsilah sultan yang memerintah seperti yang disebutkan di atas (meskipun tahun-tahun pemerintahan Sultan tumpang tindih dengan sumber data lainnya), sangat jelas bahwa masjid itu didedikasikan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin II.

Mengacu pada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa masjid itu dibangun oleh Sultan kedelapan dari keturunan langsung Sultan Sambas, tampaknya ia masih membutuhkan data tambahan untuk meyakinkan 4 Sultan Sambas yang bukan keturunan langsung dari sultan pertama Sambas.

Vidal

E-mail : Vidal@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*