Masjid Mantingan Jepara, Perpaduan Akulturasi Tiga Budaya

  • June 10, 2020

Masjid yang indah ini merupakan masjid bersejarah yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Letak masjid ini berjarak sekitar 5 kilometer mengarah ke selatan pusat kota Jepara.

Masjid ini merupakan satu diantara sekian banyak masjid yang tergolong masjid tua,karena memang masjid ini dulunya didirikan sejak era Kesultanan Demak. Secara keseluruhan, kompleks sekitar tujuh hektar terdiri dari masjid, kuburan dan museum.

Masjid Mantingan Jepara, Perpaduan Akulturasi Tiga Budaya

Dalam konteks sejarah Islam khusus nya di tanah Jawa, keberadaan Masjid Mantingan adalah masjid dengan usia tertua kedua setelah Masjid Agung Demak.

Konstruksi masjid ini diperkirakan selesai di tahun Saka atau sekitar tahun 1481 atau pada tahun 1559 Masehi. Tanggal tersebut juga terukir pada mantra Masjid Mantingan, yang merupakan “Bentuk Brahmana Sari Warna”.

Pengembangan masjid

Sejarah pembangunan Masjid Mantingan tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Islam Demak selama tur Sultan Trenggono.

Raja memiliki seorang putri bernama Retno Kencono alias Ratu Kalinyamat. Wanita itu kemudian menikah dengan R Toyib, putra Sultgan Aceh, R Muhayat Syeh.

Toyib sendiri adalah karakter yang gemar bepergian untuk belajar studi agama. Pria kelahiran Aceh ini bahkan sempat beremigrasi ke Tanah Suci dan Campa untuk menyebarkan Islam. Ketika dia tiba di Jepara, dia menyarankan Retno Kencono.

Kerajaan Demak disebut Toyib Sultan Hadlirin. Suami Ratu Kalinyamat juga diangkat sebagai Adipati Jepara. Namun, dia tidak bisa menghindari kekacauan politik di lingkungan istana.

Arya Penangsang akhirnya membunuh Raden Mukmin alias Sunan Prawoto, putra sulung Sultan Trenggono. Sultan Trenggono sendiri meninggal dalam sebuah insiden ketika mencoba mengembangkan strategi pengepungan terhadap Panarukan.

Arya Penangsang ingin membalas dendam karena Sunan Prawoto telah membunuh ayahnya untuk menempatkan Sultan Trenggono di atas takhta Demak. Tidak cukup, ia juga membunuh Sultan Hadlirin setelah menerima berita kematian Sultan Trenggono.

Setelah kematian suaminya, Ratu Kalinyamat sangat sedih. Untuk mengatasi kesedihannya, wanita itu membangun sebuah makam dan sebuah masjid di daerah Mantingan, Jepara.

Kompleks ini akhirnya menjadi cikal bakal masjid Mantingan.

Ratu Kalinyamat pertama kali meminta saran dari ayah angkat suaminya, Chi Hui Gwan. Sosok yang berjudul Patih Sungging Badarduwung adalah guru Sultan Hadlirin ketika ia belajar di Cina. Orang saleh kemudian memberkati niat Ratu untuk membangun sebuah masjid untuk memperingati almarhum Sultan Hadlirin.

Tiga budaya

Tipologi budaya Jawa, Cina, dan Hindu jelas terlihat dalam arsitektur Masjid Mantingan. Misalnya, bangunan dan lengkungan gereja memiliki bentuk lengkungan. Ada candi-candi di dekat bangunan utama Masjid Mantingan, tetapi tidak lagi utuh.

Akulturasi budaya Hindu dan Cina juga terlihat dalam bentuk mustaka dan atap yang tumpang tindih. Gaya ini berasal dari budaya Hindu Majapahit. Begitu juga dengan relief di dinding masjid ini. Pengaruh budaya Cina dapat dilihat pada ornamen tarian singa bergaya.

Bangunan utama Masjid Mantingan memiliki relief di dinding. 114 relief saat ini dipajang di sana. Sisanya disimpan di galeri sederhana di sebelah masjid ini. Keberadaan relief-relief ini menunjukkan keunikan Masjid Mantingan dibandingkan dengan masjid-masjid tua lainnya di Nusantara.

Masjid Mantingan Jepara – (Kemendikbud)

Relief biasanya ditemukan di kuil-kuil Hindu. Namun, bantuan di Masjid Mantingan sesuai dengan aturan Islam. Misalnya, gambar makhluk hidup yang diukir seperti binatang diukir pada relief. Ini adalah bukti dari pengetahuan spesialis seniman istana di jaman dahulu. Gaya gambar lain mengikuti tradisi kaligrafi Islam, yaitu geometris atau flora

Vidal

E-mail : Vidal@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*